Rabu, 20 Agustus 2014

suatu malam dimana pulang berarti diam di dalam pelukan

entah mengapa mas, aku lebih menyukai malam untuk diam lebih lama ketimbang pagi.
semburat warna langit saat mentari terbit maupun tenggelam, memang indah, sungguh.
tapi remang rembulan, yang cahayanya samar seperti malu-malu selalu kutunggu.
malam selalu menghadirkan kesunyian,
sepi yang kadang menyesakkan dada,
rindu yang tak tersampaikan, oleh cinta yang disimpan dalam diam.

malam selalu menghadirkan mimpi, kebanyakan mimpi-mimpi itu hadir pada mata-mata yang terpejam,
namun aku yang disini juga sedang bermimpi,
sambil menulis,
kata demi kata yang picis,
tempat dimana subjek pada kalimatnya tidak lagi aku saja,

tapi kita,
mas.

Tidak ada komentar: